Sabtu, 31 Januari 2009

MEGAWATI Ibu Rumah Tangga yang nekat…

Kali ini membahas hal yang cukup sensitive. Yupz,, gaung Megawati yang cukup menggelitik kaum orang intelek. Kita semua tau, tante Mega cukup kreatif dengan menyentuh “kemiskinan” untuk menjadi seorang presiden Indonesia. Beliau seolah, atau mungkin benar peduli terhadap kaum miskin, sehingga dalam promosi nya, ia menitikberatkan pada kepentingan orang miskin dengan tidak lupa melakukan pertentangan terhadap pemerintahan SBY. Kita tentu tau, belum lama ini tante Mega menyebut nya seperti poco-poco, seolah bergerak tetapi cuma maju mundur. Sekarang menyebutnya dengan yoyo, permainan anak kecil yang naik-turun seolah memutar-mutar rakyat. Hal ini dibalas dengan pantun SBY yang intelek. Disini aku tidak sedang mendukung siapa-siapa, bukan memperbandingkan semua calon presiden, tetapi hanya membandingkan kriteria orang intelek dengan ibu rumah tangga. Kita tau, tante Mega selalu saja mencari-cari kesalahan pemerintahan SBY. Memanas-manasi keadaan yang sedang panas, mencari celah masuk untuk merebut hati rakyat kecil yang sudah jelas jumlah terbanyak di Indonesia. Membodoh-bodohi rakyat yang memang sudah tidak peduli dengan apapun kecuali “PERUT”.
Ide brilliant!!!! Cara tepat merebut hati mayoritas. Tapi kepikir gak sih tante Mega dengan kemajuan Indonesia nantinya? Gimana cara untuk mempertahankan Indonesia dan menghilangkan hutang-hutang Indonesia? Apa yang terjadi jika presiden Indonesia adalah orang yang terobsesi dan hanya bisa memanas-manasi? Peduli terhadap khalayak memang sikap yang luhur, tetapi bukankah kepedulian itu bukan keegoisan? Sampai-sampai tidak mementingkan kemajuan negara..
Kita lihat frame yang lain, sementara tante Mega sibuk mencari hal yang dapat dia persalahakan, Bapak Presiden kita tetap bijak dan berwibawa. Yah, kalo periode depan Bapak Presiden kita gak terpilih, paling nggak presiden kita bukan” kompor”!!! Behave bu..
Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak sedang mendukung salah satu pihak, apalagi memaksakan seseorang memilih. Tapi hanya berpendapat. That’s it!
Dan satu hal untuk Indonesia, bukankah kita membutuhkan pemimpin yang bijak dan nggak malu-maluin? Selain perut, cobalah sedikit berfikir untuk masa depan anak cucu Indonesia. Pilihlah dengan kematangan pikiran. Keyz…

3 komentar:

  1. IntinYA C gue Ga setujU KaLo c TAnte itu jadi presiden Ntarnyah....

    Sembako MuraH Mah udah di gaung"in darI Jaman kuda tapi " Talk OnLy No Action"


    Ciipphh...

    BalasHapus
  2. Dia kan udah pernah jadi presiden. Dan kita juga udah tahu prestasinya. Masih ingat pada waktu pemerintahannya sebagian besar calon bupati dan walikota maupun gubernur dari partai ibu ini kalah, padahal fraksi partainya paling besar waktu itu di dpr maupun dprd. Itu artinya angleg (bukan caleg lagi) dari partai ibu ini banyak yang bisa dibeli.

    BalasHapus
  3. Kenapa Megawati selalu menyerang SBY?, masih inget ga kasus SBY yang mengundurkan diri dari kabinetnya Mega?.

    Politik adalah permainan momentum. Waktu itu SBY seolah-olah dizholimi oleh Mega sehingga beliau akhirnya mengundurkan diri dari kabinet, sehingga dari momentum inilah simpati rakyat mengalir kepadanya, dalam kondisi ini beliau kemudian menggalang kekuatan dengan Demokrat-nya. Dalam pemilu 04 Mega kemudian dikalahkan oleh mantan anak buahnya ini yang berhasil menjadi RI 1 sekarang. Maka tak heran jika sekarang bahkan semenjak SBY menjadi RI 1, Mega dan Moncong Putihnya terus menyerang pemerintahan SBY.

    Jika melihat beberapa tahun ke belakang, yaitu ketika masa awal-awal reformasi bergulir, "Poros Tengah" yang dimotori Amin Rais pun mendapatkan berkah momentum dengan berhasil meng-goalkan Gus Dur sebagai RI 1. Sekali lagi politik berhubungan dengan seberapa cerdas para pelakunya mengelola momentum tersebut.

    Selain berhasil memainkan momentumnya dengan baik, SBY juga tidak terlepas dari kritisi menyangkut kebijakan-kebijakannya, salah satunya; harga BBM yang turun 3 kali hendaknya tidak diklaim sebagai keberhasilan pemerintahannya (dalam iklan politik malah diklaim sebagai keberhasilan Demokrat), ketika BBM turun 3 kali, kondisi harga minyak dunia pun sedang turun drastis, jadi kalau harga BBM nasional turun ketika harga minyak dunia turun adalah seperti orang pakai payung di musim hujan, so what?, apa istimewanya??.

    BalasHapus