(mengangkat TOPIK TA penulis, yang telah penulis temukan dengan susah payah,hehe…)
Satu sisi, setelah munculnya Bank Syariah, konsumen Indonesia banyak yang tertarik dan membuka rekeningnya di Bank Syariah. Namun pada nyatanya, semenjak kemunculan Bank Syariah 10 tahun lalu, pertumbuhan Bank syariah terhitung lambat bak jalannya kuya, baik dari segi pertumbuhan nasabah maupun penyaluran kreditnya. Ini sangat berlawanan mengingat 80% penduduk Indonesia beragamakan Islam.
Apa yang salah dengan Bank Syariah? Kenapa konsumen Islam lebih tertarik untuk mengkonsumsi Bank umum dengan resiko riba yang jelas-jelas diharamkan dalam Islam?
Ada beberapa hal yang dapat menjadi jawabannya.. Bisa karena promosi Bank Syariah yang kurang menjangkau target market atau mungkin salesperson Bank Syariah yang kalah unggul dalam menawarkan jasa pinjamannya dibanding pesaing. Kemungkinan lainnya:
1. Kurang promosi lebih dekat ke pedesaan, sementara 60% dari masyarakat Islam Indonesia berada di pedesaan.
2. Promosi kurang menarik dan jelas.
3. Kurangnya pendirian cabang yang menyebabkan konsumen kurang aware, atau konsumen merasa malas untuk menabung di temapat yang jauh.
4. Penyediaan ATM yang minim.
5. Program promo yang kurang merambah.
6. Produk tidak dikemas dengan menarik.
7. Persepsi konsumen itu sendiri.
8. Atau hal lainnya yang tidak kita ketahui.
Beberapa Bank Syariah mulai yakin bahwa di tahun 2009 ini mereka akan (dan memang harus) mendapatkan kenaikan market share yang tadinya 2,08% menjadi 5%.
Saran seorang awam, Bank Syariah harus memberikan penjelasan pada masyarakat tentang manfaatnya, berikan promo-promo menarik untuk konsumen. Dan kalo memotret satu sisi kehidupan (kehidupan mahasiswa), biasanya mahasiswa menabung dalam jumlah kecil, yang jatuhnya biaya pajak lebih besar daripada bunga. Kalau pun mendapat bunga, itu adalah riba. Di Bank Syariah sendiri sitemnya bagi hasil, dan tanpa pajak (diatas nominal minimum) untuk tabungan, dan tanpa bunga untuk pinjaman, karena sistemnya Bank Syariah ikut andil dalam berbisnis, bukan meminjamkan, sehingga ada bagi hasil. Gak ada salahnya dilakukan promo besar-besaran, terutama untuk Bank Syariah murni (bukan merupakan product line dari Bank umum) seperti Bank Muamalat.
Disini, penulis mengangkat isu ini menjadi topik peneliatian untuk tugas akhir. Nah pembaca, tolong yah berikan opini kalian dan apapun yang kalian ketahui tentang Bank Syariah.
I’ll be very glad if you leave the comment. Thanks
Sabtu, 31 Januari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Knapa Bank Umum Lebih Banyak dimInati coba??
BalasHapusLah iya toh,,,Wong mUnculnYa ajah Duluan dari pada bamk syariah....
Lgian alesan" diatas juga udah cukup mnjawab pertanyaan muh kan....
Tapi sejujurnYa ak lebih Tertarik sama kuyanya...hahahah...
Menurut filosofi Kuya yg aku tau Ya Bu dia Itu pelan tapi pasti,,,Ga perlU penGen" Cepet Sampe Yg Penting Udah ADa Tujuan nyah!!!!
Entah bank sayariah ini menerapkan Filosofi Ini ato engga...
CoBa Tanya Ke bank Nyah...
Heuheuu....
Emang Fokus TA muh Ituh Apah????
Sebagai latar belakang suatu toipik yang ingin diteliti, ini sudah cukup bagus. Tapi terus apanya yang ingin diketahui dari penelitianmu nanti?
BalasHapusKenapa Bank Syariah "sangat lambat pertumbuhannya" alias seperti kuya?, menurut saya ada beberapa poin, diantaranya :
BalasHapus1. Afiliasi umat Islam kepada agamanya belum kuat, artinya sebagian umat Islam masih memisahkan antara agama dengan kehidupannya. Mereka masih berpikir parsial dengan hanya menjalankan ritual beragamanya saja tanpa berpikir bahwa masalah ekonomi, sosial dan politik pun sesungguhnya sudah diatur oleh Islam. Pola pikir seperti ini tidak akan kuat dalam menghadapi invasi budaya dari luar. Lihat saja di sekitar kita, budaya apa saja yang ada nuansa Islamnya?. Sebagai contoh; jangankan meninggalkan bank konvensional yang hukum ribanya masih ngambang (MUI pun tidak pernah tegas dalam hal ini), masalah penggunaan jilbab (kain yang menutupi kepala dan dada)yang hukumnya sudah jelas dalam Al Qur'an (surat An Nuur)pun masih belum bisa semuanya menjalani.
2. Pasar bank sudah jenuh. Dulu bank yang rajin menggarap mikro banking (nasabah kecil)hanyalah BRI, tapi kini hampir semua bank (swasta & BUMN)pun rajin turun ke bawah menggarap pasar kecil tersebut. Ini disebabkan karena nasabah korporasi (pengusaha besar dan kakap)sudah mulai mengkhawatirkan (kalau pinjam pasti nominalnya besar, dan kalau pembayarannya macet pasti akan mengganggu kesehatan bank yang bersangkutan), apalagi sampai kini kasus-kasus tentang kurangnya likuiditas di bank sering terjadi. Disebabkan oleh kondisi ini (pasar yang jenuh), mungkin bank syariah pun terjebak dalam kompetisi yang padat pemain.
3. Masyarakat pedesaan menurut saya justru bukan pasar potensial untuk bank syariah, hal ini karena secara operasional dan prinsip justru masyarakat perkotaanlah yang lebih mengerti akan manfaat bank syariah. (yang paling dulu memperbaharui afiliasinya dengan Islam adalah masyarakat perkotaan; karena literatur dan lingkungan yang mendukung)
4.Diawal komentar ini saya menulis "sangat lambat pertumbuhannya", sengaja saya kasih apostrop, karena saya kurang yakin dengan pernyataan tersebut. Kenyataannya yang saya lihat justru perkembangan bank syariah cukup cepat dalam dunia perbankan nasional. Hal ini bisa dilihat dari semakin banyaknya cabang-cabang yang didirikan di kota-kota kecil, dan hal yang terpenting adalah semakin banyaknya bank konvensional yang "mengekor" dengan mengeluarkan divisi-divisi syariahnya. Di sini budaya syariah telah mewarnai bank-bank konvensional. Pemasaran yang paling penting menurut saya adalah pemasaran budaya, dan dalam hal ini bank syariah telah melakukannya dengan cukup baik.
Tapi tak masalah juga kalau mau diempiriskan dengan penelitian, yang jelas harus ditegaskan (saya setuju dengan Pak Agus)apa yang mau diketahui dari penelitian itu?.
topi TA yang akhirnya dirimu temukan juga iyah...
BalasHapustopinya menarik...
klo aku kenap lebih memilih bank umun daripada bank syariah, jelas karena bank umum kan lebih lama berdirinya, kredibilitasnya dah ga di ragukan lagi, fasilitasnya lengkap, terus dah tau ketentuan2 buat jadi nasabah atau pun untuk mengakses fasilitasnya.
tapi klo bank syariah kan belum tau apa2...
jadi aku males buat jadi nasabah bank syariah... pertimbangan ku misalnya nih yah: waktu yang aku habiskan untuk mencari info bank syariah, terus belum tentu bank Syariah layanan nya lebih bagus dari bank umum (klo di bandingin BNI lho... aku kan nasabah disana), akses online nya cepet or ga..
jadi banyak deh yang mesti dipertimbangkan. mending ambil amannya aja, tetep jadi nasabah bank ku sekarang.
eh jeng,,, ikutin blogku juga iyah..
thepowerofdreamistrue.blogspot.com